twitter


Pertanyaan diatas adalah suatu pertanyaan yang tidak mudah untuk dijawab. Namun, kita melihat potensi-potensi yang dimiliki manusia, maka kita akan menemukan beberapa jawaban terhadap pertanyaan tersebut, antara lain adalah sebagai berikut :
1. Manusia sebagai makhluk Allah memiliki banyak kelebihan dibanding dengan makhluk yang yang lain; tetapi dibalik kelebihan yang banyak itu, manusia juga tidak luput dari banyak kekurangan, kelemahan dan kemampuan yang terbatas. Manusia terbatas pada alam sekitarnya, warisan keturunan dan latar belakang kebudayannya/hidupnya,; yang menyebabkan adanya perbedaan pandangan dalam menghadapi suatu masalah, bahkan seringkali bertentangan antara satu dengan yang lainnya.
Pandangan yang simpang siur tersebut (subyektif) tidak akan dapat menimbulkan keyakinan atas kebenaran, tetapi senantiasa diliputi oleh kabut keragu-raguan (dzanny), sehingga manusia senantiasa gagal dalam menentukan kebenaran secara mutlak, ia tidak sanggup menentukan kebaikan dan keburukan (haq dan batil), ia tidak dapat menentukan nilai-nilai semua hal yang demikian itu adalah di luar bidang ilmu pengetahuan manusia.
Untuk mengatasi ataupun memberikan solusi terhadap kegagalan manusia sebagai akibat dari kelemahannya, itu maka diperlukan agama/wahyu yang berasal dari luar manusia, yakni Allah swt. melalui para Nabi dan Rasul-Nya. Hal ini dapat terjadi karena Allah swt. adalah Maha Sempurna, sehingga wahyu yang diturunkan-Nya merupakan kebenaran mutlak dan bersifat universal yang tak perlu diragukan lagi, sebagaimana firman Allah dalam Q.S. al-Baqarah (2) : 147,
الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلاَ تَكُونَنَّ مِنْ الْمُمْتَرِينَ
“Kebenaran itu adalah berasal dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu meragukannya”
2. Dalam diri manusia terhadap hawa nafsu, yang senantiasa mengajak manusia kepada kejahatan, apalagi kalau hawa nafsu tersebut sudah dipengaruhi oleh syaitan/iblis yang senantiasa menyesatkan manusia dari jalan yang benar. Jika manusia dapat mengalahkan pengaruh hawa nafsu dan syaitan tersebut, maka ia akan lebih tinggi derajatnya daripada malaikat; tetapi, jika ia mengikuti ajakan hawa nafsunya dan syaitan tersebut, maka ia akan turun derajatnya lebih rendah daripada binatang.
Untuk mengatasi pengaruh hawa nafsu dan syaitan itu, manusia harus memakai senjata agama (iman), karena hanya agama (imanlah) yang dapat mengatasi dan mengendalikan hawa nafsu dan syaitan/iblis itu; sebab agama merupakan sumber moral dan akhlak dalam Islam. Itulah sebabnya, missi utama manusia, sebagaimana hadits beliau yang menyatakan: Hanya saja aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.
Melawan hawa nafsu dan syaitan adalah jihad akbar, sebagaimana dikatakan oleh Nabi saw. sewaktu kembali dari perang Badar: Kita kembali dari jihad (perang) yang paling kecil menuju jihad yang paling besar, para sahabat bertanya: adakah perang yang lebih besar dari perang ini ya Rasulullah? Nabi menjawaab : ada, yakni melawan hawa nafsu.
Di samping itu, ada hadits lain yang mengatakan: Tidak sempurna iman seseorang di antara kamu sehingga hawa nafsunya semata-mata mengikuti agama Islam yang kaubawa.
3. Manusia dengan akalnya semata, tidak mampu mengetahui alam metafisika, alam akhirat yang merupakan alam gaib, dan berada di luar jangkauan akal manusia, sebagaimana firmana Allah dalam Q.S. al-Nahl (27) : 65,
وَاللَّهُ أَنزَلَ مِنْ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ اْلأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ
“Dan Allah menurunkan air (hujan) dari langit dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi yang tadinya sudah mati. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran)“
Akal manusia mempunyai batas-batas kemampuan tertentu, sehingga tidak boleh melampaui batas dan wewenangnya. Oleh karena itu, banyak masalah yang tidak mampu dipecahkan oleh akal manusia, terutama masalah alam gaib; dan di sinilah perlunya agama/wahyu untuk meberikan jawaban terhadap segala masalah gaib yang berada di luar jangkauan akal manusia. Di sinilah letak kebutuhan manusia untuk mendapat bimbingan agama/wahyu, sehingga mampu mengatasi segala persoalan hidupnya dengan baik dan menyakinkan.
4. Para sainstis yang terlalu mendewakan ilmu pengetahuan –banyak yang kehilangan idealisme sebagai tujuan hidupnya. Mereka dihinggapi penyakit risau gelisah, hidupnya hambar dan hampa, karena dengan pengetahuan semata, mereka tidak mampu memenuhi hajat hidupnya; sebab dengan bekal ilmu pengetahuannya itu, tempat berpijaknya makin kabur, karena kebenaran yang diperolehnya relatif dan temporer, sehingga rohaninya makin gersang, sebagaimana bumi ditimpa kemarau, sehingga membutuhkan siraman yang dapat menyejukkan. Di sinilah perlunya agama untuk memenuhi hajat rohani manusia, agar ia tidak risau dan gelisah dalam menghadapi segala persoalan hidup ini.
5. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah banyak memberikan kebahagiaan dan kesejahteraan bagi umat manusia. Namun, dibalik semuanya itu, kemajuan ilmu pengetahuann dan tehnologi pula yang banyak menimbulkan kecemasan dan ancaman keselamatan bagi umat manusia. Berbagai konflik yang maha dahsyat terjadi diberbagai belahan dunia dewasa ini merupakan dampak negatif dari pada kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi itu, dengan ilmu dan tehnologi, manusia memproduksi senjata, namun dengan senjata itu pula manusia banyak menjadi korban. Di sinilah perlunya agama, karena hanya agama (iman) lah yang dapat mencegah agar ilmu dan tekhnologi tersebut tidak berubah menjadi senjata makan tuan/pagar makan tanaman. Agamalah yang mampu menjinakkan hati manusia yang sesat, untuk berbuat baik kepada diri sendiri dan kepada orang lain.
Pada dasarnya semua orang butuh penjelasan untuk hidup dan kehadirannya di dunia ini. kenapa dia harus hidup, berkarya dan mati. apakah kehidupan fana di dunia musnah begitu saja diterpa kematian. bagaimana nasib manusia setelah kematian? masih banyak pertanyaan yang muncul terkait dengan keprihatinan manusia tentang hidup dan kematiannya.

orang beragama telah menemukannya dalam (dan tengah berusaha untuk semakin yakin akan) agama. bagi orang beragama, agama (dengan segala keterbatasannya) menyediakan jawaban untuk semuanya itu.

orang tak beragama pun telah menemukan (dan tengah berusaha untuk semakin yakin akan) jawaban semua pertanyaan itu.. yang tidak ditemukan dalam agama.

beragama atau tidak beragama kemudian bukan soal identitas melainkan soal ketetapan dan ketenangan hati dalam menjawab semua pertanyaan tentang hidup dan menghadapinya dengan lebih bijak.
Seperti yang dikatakan Syekh Mahmod Syaltout dalam Kitabnya yang berjudul “Min Taujihatil Islam” (Tuntunan Islam), agama amatlah penting bagi kekuatan dalam diri manusia.

Karena dalam diri manusia ada dua kekuatan yang mendorong manusia. Pertama, kekuatan yang mendorong manusia berbuat baik atau kebajikan. Dan kedua, kekuatan yang mendorong manusia untuk berbuat salah atau kekufuran.

Kekuatan yang mendorong manusia untuk melakukan ke arah kebaikan karena adanya akal yang dapat membedakan antara petunjuk dengan kesesatan. Karena itulah akal pada dasarnya mengajak manusia untuk selalu berlaku adil, menghargai kebersamaan. Juga mengupayakan tolong menolong ke arah usaha-usaha kebaikan dan kebahagiaan serta melakukan perbuatan-perbuatan terpuji.

Sedangkan kekuatan dalam diri manusia yang mendorong ke arah kejahatan disebabkan oleh adanya hawa nafsu segala rupa [(ermasuk syahwat) dari dalam dirinya. Karena itulah terkadang manusia dalam perbuatannya dapat melampaui batas sehingga merusak kehormatan, menumpahkan darah, merampas hak orang lain dan sebagainya.

Untuk menjaga keseimbangan dan sebagai kontrol manusia agar tidak cenderung ke arah yang tidak benar maka akal sebagai pembanding harus memiliki “agama”. Di sana agama berperan sebagai pedoman hidup dan pengendali serta penunjuk di dalam usaha manusia mencapai kesehjateraan dan kebahagiaan lahir dan batin, baik di dunia dan di akhirat.
jika kita jalan-jalan ke mana saja di pelosok bumi ini maka di setiap tempat yang kita kunjungi pasti akan selalu ada yang namanya rumah ibadah,baik itu vihara,masjid,gereja,kelenteng, semua ini menunjukan bahwa kapan pun dan di mana pun umat manusia butuh tempat di mana mereka bisa beribadah menghadap tuhannya.
kita semua sudah mengerti bahwa hidup tidak sekedar makan,minum,berhubungan suami istri,ke kantor,pulang kerja,istirahat,bangun,beraktivitas ,kemudian istirahat lagi,ada saatnya kita membutuhkan sandaran ketika angin kencang bernama masalah menyinggahi kehidupan kita,sandaran itu haruslah kuat agar hidup kita tidak terpelanting dan terperosok ke jurang kehancuran.
dalam setiap agama di ajarkan bagaimana cara berdoa,ada agama yang memerintahkan penganutnya untuk beribadah lima kali sehari semalam,mereka menyebutnya sebagai sholat.di dalam sholat itulah para penganut agama ini memohon petunjuk dan kekuatan imam agar selalu tegar di dalam menghadapi segala rintangan kehidupan.
ada juga agama yang menganjurkan untuk selalu merenungi hidup,menapak tilasi perjalanan sang budha melalui delapan jalan kebaikan.
semua agama di dunia ini akan selalu menghadapi persoalan yang sama,yaitu di tinggalkan penganutnya karena menganggap agama hanyalah sekedar dogma,ajaran-ajaran agama di anggap terlalu tinggi menggantung di langit,padahal kita tinggal di bumi.
tugas para agamawan dan para cendikiawan lah untuk membumikan ajaran-ajaran langit sehingga manusia-manusia yang gersang jiwanya tersirami oleh kesejukan agama.manusia modern yang belum mengenal agama secara utuh akan menganggap agama hanyalah sebuah cerita usang orang-orang jaman dulu,karenanya ketika masalah bertubi-tubi menghampiri mereka,jalan yang di tempuh bukanlah menghadap tuhan tetapi tenggelam dalam minuman keras,dengan mabok di harapkan segala masalah akan menjauh,padahal bukannya menyelesaikan masalah justru sebaliknya menambah masalah baru.
mengapa mereka tidak berpaling dan kembali kepada agama ? di dalam agama mereka akan menemukan bahwa di balik kesulitan akan ada kemudahan.di dalam kitab suci sebuah agama di sebutkan hal itu,bahkan secara berurutan. di dalam ajaran agama kita di ajarkan untuk sabar apabila masalah mendatangi dan bersyukur jika keberuntungan menyelimuti kehidupan kita.
kita semua tampa terkecuali membutuhkan agama,hatta seorang yang mengaku tidak beragama pun,karena agama adalah jalan bagi manusia untuk dapat mengenal tuhannya.di dalam agama terdapat ajaran-ajaran agung yang di bawa oleh manusia agung.ajaran itu berasal dari tuhan yang maha pengasih dan maha penyayang,jadi masihkah anda menganggap agama sudah tidak relevan lagi di era digital ?
Mengapa Kita Beragama ?
Marilah kita kembali pada pertanyaan semula : "mengapa kita beragama ?"
Manusia adalah satu spesies makhluk yang unik dan istimewa dibanding makhluk-makhluk lainnya, termasuk malaikat. Karena, manusia dicipta dari unsur yang berbeda, yaitu unsur hewani/materi dan unsur ruhani/immateri. Memang dari unsur hewani manusia tidak lebih dari binatang, bahkan lebih lemah darinya. Bukankah banyak di antara binatang yang lebih kuat secara fisik dari manusia ? Bukankah ada binatang yang memiliki ketajaman mata yang melebihi mata manusia ? Bukankah ada pula binatang yang penciumannya lebih peka dan lebih tajam dari penciuman manusia ? Dan sejumlah kelebihan-kelebihan lainnya yang dimiliki selain manusia.
Sehubungan ini Allah Swt berfirman : "Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah" (QS An-Nisa, 4 : 28); "Allah telah menciptakan kalian lemah, kemudian menjadi kuat, lalu setelah kuat kalian menjadi lemah dan tua." (QS Rum : 54). Masih banyak ayat lainnya yang menjelaskan hal serupa.
Karena itu, sangatlah tidak pantas bagi manusia berbangga dengan penampilan fisiknya, di samping itu penampilan fisik adalah wahbi sifatnya (semata-mata penberian dari Allah, bukan hasil usahanya).
Kelebihan manusia terletak pada unsur ruhani (mencakup hati dan akal, keduanya bukan materi). Dengan akalnya, manusia yang lemah secara fisik dapat menguasai dunia dan mengatur segala yang ada di atasnya. Karena unsur inilah Allah menciptakan segala yang ada di langit dan di bumi untuk manusia (lihat surat Luqman ayat 20). Dalam salah satu ayat Alquran ditegaskan : "Sungguh telah Kami muliakan anak-anak, Kami berikan kekuasaan kepada mereka di darat dan di laut, serta Kami anugerahi mereka rezeki. Dan sungguh Kami utamakan mereka di atas kebanyakan makhluk Kami lainnya." (QS Al-Isra, 17 : 70).
Unsur akal pada manusia, awalnya masih berupa potensi (bilquwwah) yang perlu difaktualkan (bilfi’li) dan ditampakkan. Oleh karena itu, jika sebagian manusia lebih utama dari sebagian lainnya, maka hal itu semata-mata karena hasil usahanya sendirinya. Karenanya, dia berhak bangga atas yang lainnya. Sebagian mereka ada pula yang tidak berusaha memfaktualkan dan menampakkan potensinya itu, atau memfaktualkannya hanya untuk memuaskan tuntutan hewaninya, maka orang itu sama dengan binatang, bahkan lebih hina dari binatang (QS Al-A’raf, 7 : 170; Al-Furqan : 42).
Termasuk ke dalam unsur ruhan adalah fitrah. Manusia memiliki fitrah yang merupakan modal terbesar manusia untuk maju dan sempurna. Din adalah bagian dari fitrah manusia.
Dalam kitab Fitrat (edisi bahasa Parsi), Syahid Muthahhari menyebutkan adanya lima macam fitrah (kecenderungan) dalam diri manusia yaitu mencari kebenaran (hakikat), condong kepada kebaikan, condong kepada keindahan, berkarya (berkreasi), dan cinta (isyq) atau menyembah (beragama). Sedangkan menurut Syeikh Ja’far Subhani, terdapat empat macam kecenderungan pada manusia, dengan tanpa memasukkan kecenderungan berkarya seperti pendapat Syahid Muthahhari (kitab Al-Ilahiyyat, juz 1).
Kecenderungan beragama merupakan bagian dari fitrah manusia. Manusia diciptakan oleh Allah dalam bentuk cenderung beragama , dalam arti manusia mencintai kesempurnaan yang mutlak dan hakiki serta ingin menyembah Pemilik kesempurnaan tersebut. Syeik Taqi Mishbah Yazdi, dalam kitab Ma’arif al-Qur’an juz 1 hal. 37, menyebutkan adanya dua ciri fitrah, bik fitrah beragama maupun lainnya, yang terdapat pada manusia, yaitu pertama kecenderungan-kecenderungan (fitrah) tersebut diperoleh tanpa usaha atau ada dengan sendirinya, dan kedua fitrah tersebut ada pada semua manusia walaupun keberadaannya pada setiap orang berbeda, ada yang kuat dan ada pula yang lemah. Dengan demikian, manusia tidak harus dipaksa beragama, namun cukup kembali pada dirinya untuk menyebut suara dan panggilan hatinya, bahwa ada Sesuatu yang menciptakan dirinya dan alam sekitarnya.
Meskipun kecenderungan beragama adalah suatu yang fitri, namun untuk menentukan siapa atua apa yang pantas dicintai dan disembah bukan merupakan bagian dari fitrah, melainkan tugas akal yang dapat menentukannya. Jadi jawaban dari pertanyaan mengapa manusia harus beragama, adalah bahwa beragama merupakan fitrah manusia. Allah Ta’ala berfirman, "Maka hadapkanlah wajahmu kepada din dengan lurus, sebagai fitrah Allah yang atasnya manusia diciptakan." (QS. Rum: 30).
Sekilas Teori-teori Kemunculan Agama
Kaum materialis memiliki sejumlah teori tentang kemunculan agama, antara lain:
1. Agama muncul karena kebodohan manusia
Sebagian mereka berpendapat, bahwa agama muncul karena kebodohan manusia. August Comte—peletak dasar aliran positivisme—menyebutkan, bahwa perkembangan pemikiran manusia dimulai dari kebodohan manusia tentang rahasia alam atau ekosistem jagat raya. Pada mulanya—periode primitif—karena manusia tidak mengetahui rahasia alam, maka mereka menyandarkan segala fenomena alam kepada Dzat yang ghaib.
Namun, dengan berkembangnya ilmu pengetahuan (sains) sampai pada batas segala sesuatu terkuat dengan ilmu yang empiris, maka keyakinan terhadap yang ghaib tidak lagi mempunyai tempat di tengah-tengah mereka.
Konsekuensi logis teori di atas, adalah makin pandai seseorang akan makin jauh ia dari agama bahkan akhirnya tidak beragama, dan makin bodoh seseorang maka makin kuat agamanya. Padahal, betapa banyak orang pandai yang beragama, seperti Albert Einstein, Charles Darwin, Hegel dan lainnya. Demikian sebaliknya, alangkah banyak orang bodoh yang tidak beragama.

2. Agama muncul karena kelemahan jiwa (takut)
Teori ini mengatakan, bahwa munculnya agama karena perasaan takut terhadap Tuhan dan akhir kehidupan. Namun, bagi orang-orang yang berani keyakinan seperti itu tidak akan muncul. Teori ini dipelopori oleh Bertnart Russel. Jadi, menurut teori ini agama adalah indikasi dari rasa takut. Memang takut kepada Tuhan dan hari akhirat, merupakan ciri orang yang beragama. Tetapi agama muncul bukan karena faktor ini, sebab seseorang merasa takut kepada Tuhan setelah ia meyakini adanya Tuhan. Jadi,takut merupakan akibat dari meyakini adanya Tuhan (baca: beragama).

3. Agama adalah produk penguasa
Karl Marx—bapak aliran komunis-sosialis—mengatakan, bahwa agama merupakan produk para penguasa yang diberlakukan atas rakyat yang tertindas, sebagai upaya agar mereka tidak berontak dan menerima keberadaan sosial-ekonomi. Mereka (rakyat tertindas) diharapkan terhibur dengan doktrin-doktrin agama, seperti harus sabar, menerima takdir, jangan marah dan lainnya.
Namun, ketika tatanan masyarakat berubah menjadi masyarakat sosial yang tidak mengenal perbedaan kelas sosial dan ekonomi, sehingga tidak ada lagi (perbedaan antara) penguasa dan rakyat yang tertindas dan tidak ada lagi (perbedaan antara) si kaya dan si miskin, maka agama dengan sendirinya akan hilang. Kenyataannya, teori di atas gagal. Terbukti bahwa negara komunis-sosialis sebesar Uni Soviet pun tidak berhasil menghapus agama dari para pemeluknya, sekalipun dengan cara kekerasan.

4. Agama adalah produk orang-orang lemah
Teori ini berseberangan dengan teori-teori sebelumnya. Teori ini mengatakan, bahwa agama hanyalah suatu perisai yang diciptakan oleh orang-orang lemah untuk membatasi kekuasaan orang-orang kuat. Norma-norma kemanusiaan seperti kedermawanan, belas kasih, kesatriaan, keadilan dan lainnya sengaja disebarkan oleh orang-orang lemah untuk menipu orang-orang kuat, sehingga mereka terpaksa mengurangi pengaruh kekuatan dan kekuasaannya. Teori ini diperoleh Nietzche, seorang filsuf Jerman.

Teori di atas terbantahkan jika kita lihat kenyataan sejarah, bahwa tidak sedikit dari pembawa agama adalah para penguasa dan orang kuat—misalnya Nabi Daud dan Nabi Sulaiman—keduanya adalah raja yang kuat.
Sebenarnya, mereka ingin menghapus agama dan menggantikannya dengan sesuatu yang mereka anggap lebih sempurna (seperti, ilmu pengetahuan menurut August Comte, kekuasaan dan kekuatan menurut Nietszche, komunis-sosialisme menurut Karl Marx dan lainnya). Padahal mencintai dan menyembah kesempurnaan adalah fitrah.
Perbedaan kaum agamawan dengan mereka, adalah bahwa kaum agamawan mendapatkan kesempurnaan yang mutlak hanya pada Tuhan. Jadi, sebenarnya mereka (kaum Atheis) beragama dengan pikiran mereka sendiri. Atau dengan kata lain, mereka mempertuhankan diri mereka sendiri.
a. Agama Sebagai Kebutuhan Fitrah
Allah berfirman dalam AlQuran surat Ar Rum (30) ayat 30 :
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Fitrah menurut ayat diatas adalah dasar penciptaan manusia, sifat pembawaan manusia sejak ia diciptakan dan merupakan kebutuhan hakiki manusia. Kebutuhan manusia di bagi dua, yaitu kebutuhan fitrah dan kebutuhan “kebiasaan”. Kebutuhan fitrah adalah kebutuhan hakiki setiap manusia, seperti kebutuhan berkeluarga, rasa ingin memiliki, keingintahuan akan sesuatu dan keinginan mencintai dan dicintai. Kebutuhan-kebutuhan ini tidak bisa dilepas dari manusia, meskipun generasi berikutnya dididik khusus agar dalam hidup mereka tidak mengenal kebutuhan-kebutuhan tersebut. Adapun kebutuhan kebiasaan adalah kebutuhan yang tidak melekat dengan penciptaan manusia, tetapi akan menjadi kebutuhan manakala dilakukan berulang-ulang, seperti ken\butuhan akan minuman keras atau ganja, perlahan-lahan kebutuhan tersebut akan menjadi kebutuhan alamiah, akan tetapi dengan usaha intensif kebutuhan-kebutuhan itu dapat ditinggalkan, bahkan dapat mendidik generasi berikutnya untuk tidak pernah mengenal sedikitpun kebutuhan-kebutuhan tersebut.

Contoh kasus di Negara komunis. Pemerintah komunis berusaha untuk melaksanakan sosialisme sebagai tonggak persatuan Negara dan pemusnahan tatanan kekeluargaaan yang bersifat pribadi agar masing-masing pribadi warganya seperti sekrup-sekrup kecil yang membangun suatu Negara tanpa memiliki kepribadian, kecuali kepribadian Negara itu sendiri. Tetapi semua usaha itu gagal total, sebab dorongan untuk membentuk keluarga merupakan dorongan fitrah. Jauh dilubuk jiwanya, setiap manusia menghendaki pendamping hidupnya dan sangat anak sebagai wujud kelanjutan dirinya di bumi ini.

Suatu norma sosial akan tetap lestari jika ia merupakan satu-satunya kebutuhan fitrahatau satu-satunya sarana untuk mencapai kebutuhan-kebutuhan fitrah tersebut. Norma sosial itulah agama.

Islam sebagai agama adalah kebutuhan fitrah yang akan melekat terus dalam kehidupan manusia. Fitrah manusia yang membutuhkan agama, digambarkan Allah dengan suatu perjanjian antara Allah dengan manusia jauh sebelum manusia dialam rahim, atau tepatnya di alam ruh :

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengata- kan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” (7:172)

Perjanjian inilah yang dimaksud keterikatan manusia kepada agama yang diungkapkan oleh para tokoh berikut ini :

1. Alexis Carell : “Pada batin manusia ada seberkas sinar yang menunjukan kepada manusia, kesalahan yang terkadang dilakukannya. Sinar inilah yang mencegah kemunkaran. Bahkan manusia terkadang merasakan kebesaran dan keagungan Tuhan.”
2. William James : “ Perbuatan manusia lebih terikat kepada naluri agamanya dibanding kepada perhitungan materialnya. Kita melihat manusia memiliki sifat ketulusan, keikhlasan, kerinduan, keramahan, kecintaan dan pengorbanan, semua itu adalah dorongan keagamaan yang tidak terlepas dari sifat semua manusia.”

Jadi terlihat sekali bahwa orang yang mengingkari agama, Tuhan serta seluruh panggilan fitrahnya, pada hakekatnya ia telah mentelantarkan dirinya dan melupakannya, itulah awal kehancuran orang yang telah mengingkari kebutuhan akan agamanya.

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (59:19)

Para ilmuan barat bukan hanya melupakan Tuhan/Agama, malah mereka hendak mengganti peranan Tuhan, sebab menurut mereka Tuhan telah mati! Menurut mereka tidak ada yang tersembunyi dan mustahil dihadapan ilmu pengetahuan. Salah seorang ilmuan barat yang terkenal(kekafirannya). Adalah Emond leech yang mengarang buku berjudul “Kami ahli pengetahuan harus mengambil peranan Tuhan”.

Menurut Emond Leech, jenis manusia yang akan lahir keduania itu harus ditentukan sesuai dengan perkembangan zaman. Zaman sekarang hanya membutuhkan orang yang bertubuh kuat, berpikiran, cerdas, bergerak cepat danberwajah cakap. Orang yang bodoh dan lugu, tidak usah dilahirkan lagi. Menurut mereka banyak anak yang lahir bertubuh cacat dan idiot, menunjukan Tuhan sudah tidak bisa memenuhi kebutuhan akan manusia yang berkualitas yang iperlukan zaman modern ini.

Untuk itu nutfah yang mengandung gen manusia, harus direkayasa hingga diperoleh bibit-bibit unggul manusia ciptaan sains, bukan ciptaan Tuhan!.

Salah seorang tokoh aliran ini adalah Prof. Paul Ehranfes, guru besar dalam ilmu fisika. Ia mencoba mendidik anaknya hanya dengan ilmu exact. Ia bercita-cita kelak akan muncul anaknya sebagai anak jenius pertama ciptaan ilmu pengetahuan tetapi apa yang terjadi? Subhanallah ! Ternyata anak itu bukan menjadi seorang yang berakal brilian, malah otaknya menjadi tidak sempurna dan sangat idiot!.

Sang professor kecewa dan akhirnya bunuh diri ! sebelum bunuh diri ia sempat membuat surat yang ditujukan kepada kawannya, Prof. Kohnstamm, bahwa agama itu perlu, dan menyesal ia telah melukai Tuhan, kemudian ia mendoakan orang yang masih hidup, “Mudah-mudahan Allah akan menolong kam, yaitu Allah yang amat kulukai sekarang ini.”

“Allah menyediakan bagi mereka azab yang keras, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang mempunyai akal; (yaitu) orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Allah telah menurunkan peringatan kepadamu,” (ath thalaq;65:10)

“Maka Kami binasakan mereka maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.”(43:25)
www.google.com

0 komentar:

Poskan Komentar